TUGAS KELOMPOK
KOMONIKASI DALAM
PROFESI KPI
: Dosen Pengampu
Dr. Evi Hafizah, M.Si
Di Susun:
O
L
E
h
Muhammad Hasan
1143110052
Ahmad
Hilwani
1143110005
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN
ISLAM (KPI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PONTIANAK 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadiran Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya
sehingga kami menyelesaikan tugas makalah mata kuliah “Akhlak Tasawuf” yang
berdudul ”AL-Fana’ AL-Baqa’ dan Ittihat”.
Shalawat
serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang membawa umatnya dari
zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah seperti sekarang ini. Kami menyadari
dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.
Oleh kerena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalh
ini. Dan semuga bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penyusun pada khususnya.
Amin
Pontianak
07-Oktober-2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL.............................................................................................i
KATA
PENGANTAR...........................................................................................ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................iii
BAB
I : PENDAHULUAN....................................................................................4
A. Latar
Belakang.................................................................................................4
B. Rumusan
Masalah...........................................................................................4
C. Tujuan
Masalah...............................................................................................5
BAB II : PEMBAHASAN.....................................................................................5
A. Pengertian,
Tujuan dan Kedudukan al-fana’ al-baqa dan ittihat.....................6
B. Tokoh
dan Pemikirannya..................................................................................7
C. Fana’
Baqa’ dan Ittihat dalam Pandangan Al-Qur’an.......................................8
BAB III : PENUTUP............................................................................................9
A. Kesimpulan.......................................................................................................9
B. Saran
saran.......................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tasawuf
merupakan ilmu yang lebih banyak berbicara tentang persoalan persoalan batin
dan kondisi kondisi rahani. Banyak para ulama ulama sufidalam mengungkapkan
dunia mereka yang lebih mengarah kepada hal hal yang mistis karena
kecendrungannya.
Karena
itu pesan pesan AL-Qur’an dan hadist oleh mereka tidak di pahami dari sudut
makna lahiriyah, tetapi dari sisi tafsir batiniyah dan diungkapkan dalam kata
kata kiasan dan pelambang seperti fana’ baqa’ dan ittihat. Sehingga pada
gilirannya mengalami benturan pemahaman yang tidak jarang melahirkan cast
sosial dan politik dengan kelompok syar’i yang memang lebih banyak menekankan
pemahaman dari aspek bentuk makna lahiriyah.
Pada
bab ini kita akan mengkaji al-fana’ al-baqa’ dan ittihat dari segi pengertian,
tujuan dan kedudukannya. Kemudian akan di lanjutkan dengan tokoh tokoh
pemikirannya serta dalam pandangan al-qur’an.
B.
Rumusan
Masalah
1. Pengertian,
Tujuan dan Kedudukan al-fana, al-baqa dan ittihat
2. Tokoh
dan Pemikirannya
3. Pandangan
al-qur’an tentang al-fana, al-baqa dan ittihat
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui pengertian, tujuan dan kedudukan al-fana, al-baqa dan ittihat
2. Untuk
mengetahui tokoh dan pemikirannya
3. Untuk
mengetahui pandangan al-qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian,
Tujuan dan Kedudukan AL-Fana, AL-Baqa dan Ittihat
Secara bahasa fana
bererti hilang, hancur, lenyapnya wujut sesuatu dan secara umum fana’ berarti
terbebas dari hal hal duniawi atau sirnanya manusia dari kehendak allah SWT.
menurut kalangan para sufi fana’ adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan
dirinya sendiri dan hilangnya sifat sifat tercela. Sebagai akibat dari fana
adalah baqa’ secara bahasa baqa artinya kekal, abadi yaitu sebaliknya dari
fana. Sedangkan menurut para sufi, baqa adalah kekalnya sifat sifat terpuji dan
sifat sifat tuhan dalam diri manusia.
Dalam pengalaman para
sufi fana slalu diiringi dengan baqa di mana keduanya ini merupakan kembar yang
tidak dapat di pisahkan. Dan dalam ilmu tasawuf fana’ dan baqa’ datang
beriringan, sebagaimana yang di nyatakan oleh para ahli tasawuf “Apabila
tampaknya nur kebaqaan, maka fana’lah yang tiada dan baqa’lah yang kekal” Dengan
demikian, dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana adalah lenyapnya
sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat
dari diri manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak
yang terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Untuk
mencapai baqa ini perlu dilakukan usaha-usaha seperti bertaubat, berzikir,
beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.
Berbicara tentang fana dan baqa ini sangat erat
hubungannya dengan ittihad yang mempunyai penyatuan yakni penyatuan batin atau
rohaniah dengan Tuhan. Menurut
Harun Nasution, yang dimaksud dengan ittihād ialah satu tingkatan
tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan di mana yang mencintai dan
yang dicintai telah menjadi satu. Dan menurut ibrahim ittihat ini merupakan
sifat yang paling tertinggi yang dapat di capai dalam perjalanan jiwa
manusia. Orang yang telah sampai
ketingkat ini, dia dengan Tuhannya telah menjadi satu,terbukalah dinding
baginya, dia dapat melihat sesuatu yang tidak pernahdilihat oleh mata,
mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah
terlintas di hati. Pada saat itu sering keluar ucapan ucapan yang ganjil dan
aneh yang disebut tasawuf dengan syatahat. dan ittihat ini bisa tercapai dan
bisa di alami oleh manusia kalau mereka sudah melewati fana’ dan baqa’, kerena
memang tujuan dari fana’ dan baqa’ sendiri adalah ittihat yaitu penyatuan didi
dengan tuhan.
Dan adapun kedudukannya merupakan hal, karena yang
demikian tidak akan terjadi terus
menerus dan juga kerena di limpahkan oleh tuhan yang maha esa.
Sebagai contoh pengalaman yang pernah di alami oleh Abu Yazid dalam berittihat
yaitu, Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Ataupun
berkata: Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau.
Selanjutnya Abu Yazid berkata : "Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku" Secara lahiriyah,
ungkapan-ungkapan Abu Yazid di atas itu seakan-akan ia mengaku dirinya Tuhan.
Akan tetapi bukan demikian maksudnya.
Di
sini Abu Yazid mengucapkan kata “Aku” bukan sebagai gambaran dari diri Abu
Yazid sendiri, tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena Abu Yazid telah bersatu
dengan diri Tuhan. Dengan kata lain Abu Yazid dalam ittihād berbicara dengan
nama Tuhan. Atau lebih tepat lagi Tuhan “berbicara” melalui lidah Abu Yazid.
Dalam hal ini Abu Yazid menjelaskan : "Sebenarnya Dia berbicara melalui
lidahku sedang aku sendiri dalam keadaan fana " Oleh karena itu sebenarnya
Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kata-kata serupa di atas bukan
diucapkan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata itu
diucapkan dalam keadaan ittihād.
B.
Tokoh
dan Pemikirannya
Tokoh
pertama yang mencetuskan dan yang pertama kali mencapai ke tingkat ittihat
dangan tuhan adalah Abu Yazid al-Bustami. Yang mempunyai nama lengkap Abu Yazid
Thaifur bin Isa bin Surusyan al bustami, ia lahir di daerah Bustam atau yang
lebih di kenal Persia pada tahun 874 M. Ajaran Tasawufnya adalah fana’ baqa’
dan ittihat. Menurut Abu Yazid manusia dapat bersatu dengan tuhannya apabila
dia mampu meleburkan keberadaannya sebagai suatu pribadi sehingga dia tidak
menyadari pribadinya (fana).
Fana’nya
seseorang diri sendiri dan mahluk lain akan terjadi ketika hilangnya kesadaran
tentang dirinya dan tentang mahluk lain. Jadi yang hilang hanyalah kesadaran
dirinya sebagai manusia. Apabila seorang sufi telah berada dalam keadaan fana
maka di situ juga akan di iringi dengan baqa’
sehingga mereka akan dapat menyatu dengan tuhannya yang di sebut dengan
ittihat, atau di dalam perpaduan itu ia menemukan hakikat hakikat jati dirinya
sebagai manusia yang berasal dari tuhannya.
Paham ini timbul sebagai konsekuensi lanjut
dari pendapatnya, bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari nur ilahi, dan
manusianya itu adalah pancaran dari yang maha esa. Barang siapa yang mampu
membebaskan diri dari alam lahiriyah maka ia akan menyatu padu dengan tunggal,
yang di lihat dan yang di rasakan hanya satu. Seperti yang pernah di alami oleh
Abu Yazid “Suatu hari ada seseorang lewat dirumah Abu yazid dan mengetuk
pintunya. Abu Yazid bertanya ” siapa yang engkau cari?” lalu ornag itu menjawab
“Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid mengatakan: “pergilah”. Dirumah ini tidak ada
kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi.
C.
Fana,
Baqa dan Ittihat dalam Pandangan AL-Qur’an
Fana’
dan baqa’ merupakan jalan untuk menuju atau berjumpa dengan tuhan. Hal ini di
ungkapkan dalam salah satu firman allah yang memerintahkan kepada manusia yaitu
orang orang yang beriman hususnya sbb:
Artinya:
Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan
dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepadanya.
Dengan
ayat di atas bahwasannya Allah SWT telah memberi petunjuk dan peluang kepada
manusia untuk bersatu dengan tuhannya secara rohaniyah dan batiniyah. Yaitu
dengan kata lain dengan banyak beramal sholeh, beribadah semata mata karena
allah, menghilangkan sifat sifat yang tercela, menghilangkan kesadaran sebagai
manusia, meninggalkan dosa dan maksiat dan kemudian menghias diri dengan sifat
sifat Allah SWT.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Fana’
adalah hilangnya sifat sifat yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari
diri manusia. Sedangkan baqa’ adalah kekalnya sifat sifat ketuhanan akhlak
terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari tuhan dalam dirinya sehingga tercapailah penyatuan dengan
tuhannya yang di sebut dengan Ittihat.
Tokoh
yang pernah sampai kepada Ittihat adalah Abu Yazid dan dalam pandangan
al-qur’an tentang fana’ baqa’ dan ittihat adalah Allah telah memberi peluang
kepada manusia untuk bersatu dengan tuhannya secara rohaniyah dan batiniyah yaitu
dengan menghilangkan semua sifat sifat buruknya.
B. Saran saran
Dalam
makalah ini kami menyadari mungkin banyak kekurangan dalam pembuatan makalah
ini, karena itu kami mengharapkan bagi pembaca untuk memberikan masukan masukan
agar makalah ini bisa menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Mustafa. Kunci memahami ilmu
tasawuf. Surabaya, 1998.
Abudin. Akhlak Tasawuf. Jakarta,
2006.
Abdurrahman. Perkembangan ilmu
tasawuf. Jakarta, 2001.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar