Senin, 14 Desember 2015

Pengertian all-Fana, al-Baqa dan It-Tihaj



TUGAS KELOMPOK
KOMONIKASI DALAM PROFESI KPI
: Dosen Pengampu
Dr. Evi Hafizah, M.Si
Di Susun:
O
L
E
h
Muhammad Hasan
1143110052
Ahmad Hilwani
1143110005
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PONTIANAK 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami menyelesaikan tugas makalah mata kuliah “Akhlak Tasawuf” yang berdudul ”AL-Fana’ AL-Baqa’ dan Ittihat”.
Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang membawa umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah seperti sekarang ini. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh kerena itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalh ini. Dan semuga bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penyusun pada khususnya. Amin
Pontianak 07-Oktober-2014


Penyusun










DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................i
KATA PENGANTAR...........................................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN....................................................................................4
A.    Latar Belakang.................................................................................................4
B.     Rumusan Masalah...........................................................................................4
C.     Tujuan Masalah...............................................................................................5
BAB II : PEMBAHASAN.....................................................................................5
A.    Pengertian, Tujuan dan Kedudukan al-fana’ al-baqa dan ittihat.....................6
B.     Tokoh dan Pemikirannya..................................................................................7
C.     Fana’ Baqa’ dan Ittihat dalam Pandangan Al-Qur’an.......................................8
BAB III : PENUTUP............................................................................................9
A.    Kesimpulan.......................................................................................................9
B.     Saran saran.......................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10









BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tasawuf merupakan ilmu yang lebih banyak berbicara tentang persoalan persoalan batin dan kondisi kondisi rahani. Banyak para ulama ulama sufidalam mengungkapkan dunia mereka yang lebih mengarah kepada hal hal yang mistis karena kecendrungannya.
Karena itu pesan pesan AL-Qur’an dan hadist oleh mereka tidak di pahami dari sudut makna lahiriyah, tetapi dari sisi tafsir batiniyah dan diungkapkan dalam kata kata kiasan dan pelambang seperti fana’ baqa’ dan ittihat. Sehingga pada gilirannya mengalami benturan pemahaman yang tidak jarang melahirkan cast sosial dan politik dengan kelompok syar’i yang memang lebih banyak menekankan pemahaman dari aspek bentuk makna lahiriyah.
Pada bab ini kita akan mengkaji al-fana’ al-baqa’ dan ittihat dari segi pengertian, tujuan dan kedudukannya. Kemudian akan di lanjutkan dengan tokoh tokoh pemikirannya serta dalam pandangan al-qur’an.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian, Tujuan dan Kedudukan al-fana, al-baqa dan ittihat
2.      Tokoh dan Pemikirannya
3.      Pandangan al-qur’an tentang al-fana, al-baqa dan ittihat
C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian, tujuan dan kedudukan al-fana, al-baqa dan ittihat
2.      Untuk mengetahui tokoh dan pemikirannya
3.      Untuk mengetahui pandangan al-qur’an



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian, Tujuan dan Kedudukan AL-Fana, AL-Baqa dan Ittihat
Secara bahasa fana bererti hilang, hancur, lenyapnya wujut sesuatu dan secara umum fana’ berarti terbebas dari hal hal duniawi atau sirnanya manusia dari kehendak allah SWT. menurut kalangan para sufi fana’ adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri dan hilangnya sifat sifat tercela. Sebagai akibat dari fana adalah baqa’ secara bahasa baqa artinya kekal, abadi yaitu sebaliknya dari fana. Sedangkan menurut para sufi, baqa adalah kekalnya sifat sifat terpuji dan sifat sifat tuhan dalam diri manusia.
Dalam pengalaman para sufi fana slalu diiringi dengan baqa di mana keduanya ini merupakan kembar yang tidak dapat di pisahkan. Dan dalam ilmu tasawuf fana’ dan baqa’ datang beriringan, sebagaimana yang di nyatakan oleh para ahli tasawuf “Apabila tampaknya nur kebaqaan, maka fana’lah yang tiada dan baqa’lah yang kekal”  Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana adalah lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak yang terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Untuk mencapai baqa ini perlu dilakukan usaha-usaha seperti bertaubat, berzikir, beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.
Berbicara tentang fana dan baqa ini sangat erat hubungannya dengan ittihad yang mempunyai penyatuan yakni penyatuan batin atau rohaniah dengan Tuhan. Menurut  Harun Nasution, yang dimaksud dengan ittihād ialah satu tingkatan tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan,  suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Dan menurut ibrahim ittihat ini merupakan sifat yang paling tertinggi yang dapat di capai dalam perjalanan jiwa manusia.  Orang yang telah sampai ketingkat ini, dia dengan Tuhannya telah menjadi satu,terbukalah dinding baginya, dia dapat melihat sesuatu yang tidak pernahdilihat oleh mata, mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati. Pada saat itu sering keluar ucapan ucapan yang ganjil dan aneh yang disebut tasawuf dengan syatahat. dan ittihat ini bisa tercapai dan bisa di alami oleh manusia kalau mereka sudah melewati fana’ dan baqa’, kerena memang tujuan dari fana’ dan baqa’ sendiri adalah ittihat yaitu penyatuan didi dengan tuhan.
Dan adapun kedudukannya merupakan hal, karena yang demikian  tidak akan terjadi terus menerus dan juga kerena di limpahkan oleh tuhan yang maha esa. Sebagai contoh pengalaman yang pernah di alami oleh Abu Yazid dalam berittihat yaitu, Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Ataupun berkata: Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. Selanjutnya Abu Yazid berkata : "Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku" Secara lahiriyah, ungkapan-ungkapan Abu Yazid di atas itu seakan-akan ia mengaku dirinya Tuhan. Akan tetapi bukan demikian maksudnya.
Di sini Abu Yazid mengucapkan kata “Aku” bukan sebagai gambaran dari diri Abu Yazid sendiri, tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena Abu Yazid telah bersatu dengan diri Tuhan. Dengan kata lain Abu Yazid dalam ittihād berbicara dengan nama Tuhan. Atau lebih tepat lagi Tuhan “berbicara” melalui lidah Abu Yazid. Dalam hal ini Abu Yazid menjelaskan : "Sebenarnya Dia berbicara melalui lidahku sedang aku sendiri dalam keadaan fana " Oleh karena itu sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kata-kata serupa di atas bukan diucapkan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata itu diucapkan dalam keadaan ittihād.

B.     Tokoh dan Pemikirannya
Tokoh pertama yang mencetuskan dan yang pertama kali mencapai ke tingkat ittihat dangan tuhan adalah Abu Yazid al-Bustami. Yang mempunyai nama lengkap Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al bustami, ia lahir di daerah Bustam atau yang lebih di kenal Persia pada tahun 874 M. Ajaran Tasawufnya adalah fana’ baqa’ dan ittihat. Menurut Abu Yazid manusia dapat bersatu dengan tuhannya apabila dia mampu meleburkan keberadaannya sebagai suatu pribadi sehingga dia tidak menyadari pribadinya (fana).
Fana’nya seseorang diri sendiri dan mahluk lain akan terjadi ketika hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang mahluk lain. Jadi yang hilang hanyalah kesadaran dirinya sebagai manusia. Apabila seorang sufi telah berada dalam keadaan fana maka di situ juga akan di iringi dengan baqa’  sehingga mereka akan dapat menyatu dengan tuhannya yang di sebut dengan ittihat, atau di dalam perpaduan itu ia menemukan hakikat hakikat jati dirinya sebagai manusia yang berasal dari tuhannya.
 Paham ini timbul sebagai konsekuensi lanjut dari pendapatnya, bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari nur ilahi, dan manusianya itu adalah pancaran dari yang maha esa. Barang siapa yang mampu membebaskan diri dari alam lahiriyah maka ia akan menyatu padu dengan tunggal, yang di lihat dan yang di rasakan hanya satu. Seperti yang pernah di alami oleh Abu Yazid “Suatu hari ada seseorang lewat dirumah Abu yazid dan mengetuk pintunya. Abu Yazid bertanya ” siapa yang engkau cari?” lalu ornag itu menjawab “Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid mengatakan: “pergilah”. Dirumah ini tidak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi.

C.    Fana, Baqa dan Ittihat dalam Pandangan AL-Qur’an
Fana’ dan baqa’ merupakan jalan untuk menuju atau berjumpa dengan tuhan. Hal ini di ungkapkan dalam salah satu firman allah yang memerintahkan kepada manusia yaitu orang orang yang beriman hususnya sbb:
Artinya: Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepadanya.
Dengan ayat di atas bahwasannya Allah SWT telah memberi petunjuk dan peluang kepada manusia untuk bersatu dengan tuhannya secara rohaniyah dan batiniyah. Yaitu dengan kata lain dengan banyak beramal sholeh, beribadah semata mata karena allah, menghilangkan sifat sifat yang tercela, menghilangkan kesadaran sebagai manusia, meninggalkan dosa dan maksiat dan kemudian menghias diri dengan sifat sifat Allah SWT.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Fana’ adalah hilangnya sifat sifat yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Sedangkan baqa’ adalah kekalnya sifat sifat ketuhanan akhlak terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari tuhan dalam dirinya  sehingga tercapailah penyatuan dengan tuhannya yang di sebut dengan Ittihat.
Tokoh yang pernah sampai kepada Ittihat adalah Abu Yazid dan dalam pandangan al-qur’an tentang fana’ baqa’ dan ittihat adalah Allah telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan tuhannya secara rohaniyah dan batiniyah yaitu dengan menghilangkan semua sifat sifat buruknya.
B.     Saran saran
Dalam makalah ini kami menyadari mungkin banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, karena itu kami mengharapkan bagi pembaca untuk memberikan masukan masukan agar makalah ini bisa menjadi lebih baik.

















DAFTAR PUSTAKA
Mustafa. Kunci memahami ilmu tasawuf. Surabaya, 1998.
Abudin. Akhlak Tasawuf. Jakarta, 2006.
Abdurrahman. Perkembangan ilmu tasawuf. Jakarta, 2001.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar